“Tutur Katanya Menyentuh Hati…”

Rasulullah SAW adalah manusia yang paling fasih bicaranya. Ucapannya menawan hati dan menyentuh jiwa. Perkataannya bersih, indah, teratur dan halus namun menyimpan makna yang agung. Tutur katanya paling mengagumkan. Ungkapannya paling menggetarkan hati. Ucapannya yang singkat mengandung mu’jizat dari yang Maha Indah. Dalam hal ini beliau bersabda :

“Aku telah diberi jawmi’ul kalim (ungkapan singkat namun bermakna luas)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian halnya tutur kata Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, mampu melelehkan air mata orang yang mendengarnya hingga membasahi jenggot-jenggot mereka.

Suatu ketika Rasullullah SAW membagi harta rampasan yang jumlahnya banyak sekali kepada kaum Quraisy dan beberapa kabilah Arab, sementara kaum Anshar tidak diberi bagian walau sepeserpun. Melihat kenyataan ini, marahlah sebagian dari mereka, sampai-sampai ada yang berkata, “Demi Allah, Rasulullah SAW kini telah menjumpai kaumnya sendiri.” Sampai kemudian Sa’ad bin Ubadah datang menjumpai Rasulullah SAW seraya berkata, “Wahai Rasulullah, sebagian dari kaum Anshar keberatan dengan keputusanmu dalam masalah harta rampasan yang engkau peroleh. Engkau telah membaginya pada kaummu dan kepada kabilah-kabilah Arab dalam jumlah yang sangat besar. Sementara kaum Anshar tidak mendapatkan sedikitpun. “Rasululluh SAW bertanya, “Wahai Sa’ad, kamu sendiri bagaimana?” Sa’ad menjawab, “Wahai Rasul, aku tiada lain kecuali bagian dari kaumku.” Rasulullah SAW pun menjawab,”Kumpulkanlah kaummu di tempat ini”. Baca entri selengkapnya »

“If The Holy Al-Qur’an Can Speak…”

Andai Al-Qur’an dapat berbicara….”

Waktu engkau masih anak-anak, kau laksana kawan sejati bagiku…dengan wudhu’, Aku engkau sentuh… dalam keadaan suci, Aku engkau pegang…kau junjung dan kau pelajari.Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras tiap hari…setelah itu…kau pun cium Aku mesra. Sekarang engkau telah dewasa…nampaknya, engkau sudah tidak lagi peduli atau berminat padaku…apakah aku bacaan yang usang? yang tinggal sejarah menurutmu barangkali? Aku ini bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu atau… menurutmu aku hanya untuk anak-anak kecil yang belajar ngaji saja? kini… Aku engkau simpan rapi…rapi sekali… sampai-sampai engkau lupa dimana telah menyimpan Aku. Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu kadangkala aku dijadikan emas kawin agar engkau dianggap bertaqwa atau…Aku kau buat sebagai penangkal setan. Kini…Aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian, kesepian dan kehampaan di atas lemari, di dalam laci penuh dengan debu…kini…Aku engkau padamkan…

Baca entri selengkapnya »