Chapter I: “My Poem To Nie’Syah….”

Kemanakah Kau memanduku, peri nan mempesona….

Dan berapa lama akan kuikuti Kau diatas jalan berliku ini….Jalan yang ditanami semak-semak berduri?….

Berapa lama sukma kita akan naik turun diatasjalan berbatu dan berliku ini?….

Bak seorang bocah mengikuti ibunya, ku ikuti Kau….

Memegang ujung terjauh pakaianmu….

Melupakan impian-impianku….

Menatapi kecantikanmu yang menyilaukan mataku di bawah pesona arak-arakkan hantu yang melayang-layang diatasku dan menarikmu lewat kekuatan batin di dalam diriku yang tak bisa ku sangkal….

Waktupun berjalan seperti hantu di lembah gelap…

Akupun tak mampu melawan kesediahan dan duka lara….

Namun langit telah menentukan dalam keheningan bahwa Aku harus menjalani hari-hariku….

Aku akan memandang ke masa lalu, masa yang tak lain adalah hari ini….

Seperti musim memandangi musim dingin, aku akan merenungi kehidupan ini seperti seorang pendaki yang telah sampai di puncak dan memandangi lereng-lereng terjal yang telah ia lalui

Aku bak sebentuk pikiran….

Berjalan sendiri dalam damai menuju timur dan barat semesta….

Merasa riang akan kecantikan dan keceriaan kehidupanmu, menyelidik ke dalam rahasia kebenaran….

Aku bagai sebuah mimpi….

Pergi diam-diam dibawah sayap-sayap malam yang ramah….

Masuk melalui atap-atap tertutup, kedalam kamar, mempermainkan dan membangkitkan….

Gunung-gunung serupa elang kesepian….

Melewatkan malam-malam pengembaraan di gurun-gurun pasir bagai singa yang gelisah….

Maukah Kau memerdulikan seseorang yang memandang cinta hanya seperti seorang penghibur dan menolak menerimanya sebagai majikan?….

Aku mendengar suatu suara yang lebih menentramkan hati daripada bisikan-bisikan kehidupan….

Lebih sendu daripada ratap keluhan….

Lebih lembut daripada gemerisik sayap putih….

Dan lebih dalam daripada gelombang samudra….

Akankah Kau menerima sebuah hati yang mencinta, namun tak pernah memberi?….

Yang membakar, namun tak meleleh?….

Akankah Kau merasa senang dengan jiwa yang menggigil di hadapan badai, namun tak pernah menyerah?….

Namun, kini telah kurentangkan sayap-sayapku dan aku siap melayang….

Akankah kau menyertai seorang pemuda melewatkan hari-hari pengembaraannya?….

(Gibran Kahlil Gibran)

Iklan

9 Komentar

  1. ciez90 said,

    Oktober 12, 2008 pada 9:59 am

    so sweet…suZah SuIt… mau tuh…
    I wish someday,this poem for me…
    gmn PI’y lancar…
    terharu ih…puisinya bagus… oi mw…. :’>

  2. wet said,

    Oktober 21, 2008 pada 6:32 am

    cinta membutakan semua…termasuk mematikan rasa…
    mati rasa….dan pokoknya tetep cinta lah…hehe

  3. ikrarestart said,

    November 4, 2008 pada 4:02 pm

    bicara tentang cinta ohhh haruskah…!!! (sid lyrics on cerita semalam)

  4. azmi said,

    November 25, 2008 pada 11:56 am

    cinta??????????kemana kita mesti menetapkan arti sebuah kata cinta??????????

  5. nanda said,

    Juli 5, 2009 pada 2:23 am

    wah…cccintaa…

  6. mar said,

    Juli 16, 2009 pada 4:37 pm

    cie…..cie……pada ngomongin apa sih h.eeeeeee

  7. ghea said,

    November 11, 2009 pada 10:56 am

    loh kok mua muanya ngomongin cinta sih?mending ngomongin aq aja kalau aq tuh mang cantik.he…he…he……

  8. sholeh said,

    Januari 25, 2011 pada 8:41 am

    emang cinta tu pa cich


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: